Setia dalam
bekerja
Jaman ini sering memperbandingkan atau
bahkan mempertentangkan kesetiaan dengan kesempatan. Di jaman yang menuntut kita untuk
bergerak dengan cepat ini, kesetiaan dianggap sebagai kelambanan. Kesetiaan
tidak lagi menjadi nilai luhur yang didamba-dambakan orang. Kesetiaan telah
menjadi sebuah sifat yang kuno dan jarang dilirik orang.
Saya mengenal seorang kepala
keluarga yang dianugerahi Tuhan kesempatan untuk dapat bekerja dengan jejaring
atau network yang luar biasa luas. Dia begitu bersemangat bekerja,
karena memang dia menyukai untuk bertemu dengan orang-orang yang baru. Akan
tetapi keluasan network yang ia miliki menuntutnya untuk menjaga
hubungan baik dengan para koneksinya tersebut. Tidak jarang ia harus memakai weekend
untuk menjaga hubungan baik dengan para koneksinya. Ketika keluarganya mencoba
untuk menarik perhatiannya agar mendapatkan prioritas waktunya, ia menginginkan
agar istri dan anak-anaknya mengerti bahwa apa yang ia lakukan adalah menangkap
kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan agar keluarga ini bertambah kokoh
secara finansial.
Saya sendiri pernah mengalami dilema antara kesetiaan
dan kesempatan ini. Pada saat saya bimbang harus memilih antara setia pada
pekerjaan yang baru saja saya rintis dan kesempatan untuk pindah ke bidang
lain, banyak orang mengatakan agar saya harus mengambil kesempatan itu. Namun
saya sadar bahwa pada akhirnya kesetiaan yang sejati akan tidak akan membuat
harapan dan jerih payah saya sia-sia.
Ada perkataan seorang yang sangat bijak di masa lalu
berbunyi:
"Terus meneruslah
mengetuk, maka pintu akan dibukakan. Terus meneruslah mencari, maka kamu akan
menemukan."
Kita perlu mengetahui bahwa kesetiaan tidak pernah
bertentangan dengan kesempatan. Bahkan sebenarnya
kesetiaan akan membawa kita pada kesempatan-kesempatan yang teruji dan
kepastian bahwa kerja keras kita tidak akan pernah sia-sia. Bagaimana
ini dapat terjadi? Kita perlu mengetahui ciri-ciri kesetiaan yang sejati dan
bukan kesetiaan yang sembarangan atau ditunggangi kemalasan. Minimal ada 4 ciri
kesetiaan yang sejati:
- Bermula dari pengenalan diri
- Kesetiaan yang
sejati selalu bermula dari pengenalan akan kelemahan dan kelebihan diri
sendiri.
Seseorang yang mengaku setia dalam mengerjakan sesuatu, namun tidak
mengenali potensinya, bisa jadi hanya seseorang yang membuang-buang
kesempatan yang ada. Sebaliknya seseorang mengaku setia dalam mengerjakan
sesuatu, namun tidak mengenali resiko yang mengancamnya, bisa jadi hanya
merupakan seseorang yang malas dan tidak mau keluar dari zona nyaman.
- Kesetiaan yang
sejati selalu memaksa kita untuk mengenali potensi dan ancaman yang ada di
dalam diri kita terlebih dahulu. Dengan demikian kita baru dapat mengevaluasi
potensi dan ancaman yang ada di setiap persimpangan atau kesempatan yang
muncul di depan kita. Kesetiaan yang sembarangan sangat beresiko
menjerumuskan kita kepada hal-hal yang tidak kita kehendaki. Akan tetapi
kesetiaan sejati yang bermula dari pengenalan diri yang baik, akan
memperkokoh jalan kita di depan.
- Berfokus pada tujuan
Kesetiaan yang sejati tidak pernah berarti hanya
tinggal di tempat dan tidak melakukan apa-apa. Kesetiaan
sejati justru menjaga seseorang agar tetap mengejar tujuan yang telah
ditetapkannya. Seseorang tidak dapat mengatakan bahwa ia setia, jika ia
tidak mempunyai tujuan. Kesetiaan tanpa tujuan berarti tinggal diam di zona
nyaman dan tidak berbuat apa-apa.
Membangun sesama
Kesetian sejati juga membuat kita menjadi semakin
sadar akan kondisi di sekitar kita. Orang yang terlalu sering berpindah-pindah
dari satu tempat ke tempat yang lain, atau dari masalah yang satu ke masalah
yang lain, atau dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain, akan mempunyai
pengetahuan yang relatif dangkal akan relasi atau rantai sebab akibat dari hal
yang satu ke hal yang lain; dan pengetahuan yang
dangkal ini menyebabkan seseorang untuk mengambil keputusan secara gegabah dan
beresiko sangat besar untuk merugikan orang lain.
Kesetiaan yang sejati akan membuat kita bertahan sedikit lebih lama, mengamati lebih teliti, berpikir lebih matang, dan mengambil keputusan dengan lebih hati-hati. Kesetiaan yang sejati akan menolong kita terhindar dari bahaya-bahaya di balik kesempatan-kesempatan yang muncul di depan kita. Selain itu kesetiaan sejati akan mendorong kita agar tiap keputusan kita juga dapat menjadi berkat dan membangun orang-orang di sekitar kita.
Kesetiaan yang sejati akan membuat kita bertahan sedikit lebih lama, mengamati lebih teliti, berpikir lebih matang, dan mengambil keputusan dengan lebih hati-hati. Kesetiaan yang sejati akan menolong kita terhindar dari bahaya-bahaya di balik kesempatan-kesempatan yang muncul di depan kita. Selain itu kesetiaan sejati akan mendorong kita agar tiap keputusan kita juga dapat menjadi berkat dan membangun orang-orang di sekitar kita.
- Membuat kita dapat makin
bersyukur
Salah satu keunggulan kesetiaan yang sejati adalah kemampuannya untuk membuat kita lebih mudah bersyukur. Hal ini disebabkan karena kesetiaan sejati tidak pernah lepas dari menyerahkan kekawatiran dan ketidakmampuan kita kepada Tuhan yang maha kuasa. Seseorang yang mengenali kelemahan dan kekuatannya sendiri dengan baik akan memahami bahwa walaupun mampu melakukan banyak hal, manusia merupakan mahluk yang lemah dan terbatas. Pengetahuan, daya analisa, dan tenaga kita yang terbatas membuat kita mustahil untuk dapat mengetahui bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang terbaik. Hanya Tuhan yang maha tahu dan maha bijaklah yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Karena itu kesetiaan sejati tidak akan pernah dapat dilepaskan dari penyerahan total diri kita kepada kehendak Tuhan yang maha kuasa. Dengan demikian kita akan selalu bersyukur karena hidup kita aman berada di tangan Yang Kuasa.
Mari saya berikan sebuah contoh: di atas saya
menceritakan tentang seorang kepala keluarga yang sedang bergumul antara
kesempatan-kesempatan yang ditawarkan dari koneksi-koneksinya dengan tanggung
jawabnya sebagai seorang kepala keluarga terhadap istri dan anak-anaknya. Mari
kita menggunakan 4 ciri kesetiaan sejati untuk menelaah kasus ini.
- Pengenalan diri
Kita harus menyadari bahwa baik pekerjaan dan keluarga memegang peranan yang penting dalam hidup orang ini. pemeliharaan hubungan dengan rekan-rekan kerjanya akan membawa keuntungan pada pekerjaannya dan dengan demikian juga menguntungkan secara finansial bagi keluarganya. Akan tetapi tanpa kehadiran keluarganya, maka orang ini akan kehilangan tujuan dan semangat yang menjadi dasar dalam bekerja. Sekarang mari kita lihat tujuan yang ditetapkan orang ini. - Fokus pada tujuan
Hampir semua orang yang telah berkeluarga mempunyai satu tujuan utama yang sama dalam bekerja, yaitu memberi nafkah atau kemapanan finansial keluarganya. Beberapa kelompok orang yang telah mapan menambah tujuannya dengan menyenangkan dirinya dengan cara membeli barang-barang ataupun berekreasi. Beberap kelompok orang yang lain menambah tujuannya dengan berbagi atau menolong orang-orang yang membutuhkan. Apapun tujuan tambahan orang itu, yang pasti tujuan utamanya adalah memberi kemapanan finansial bagi keluarganya. Artinya ia bekerja untuk membahagiakan dan menjamin masa depan istri dan anak-anaknya. Sekarang mari kita lihat ciri ketiga dari kesetiaan yang sejati. - Membangun sesama
Kesetiaan yang sejati tidak akan mengorbankan orang lain demi kepentingan atau ambisi pribadinya. Sekarang mari kita telaah kemungkinan-kemungkinannya. Bila pekerjaan orang itu berkembang, maka orang-orang yang bekerja sama dengan orang itu juga akan mendapatkan keuntungan. Bukan hanya itu, keluarganyapun akan mendapatkan keuntungan secara finansial, walaupun mungkin bukan kebahagiaan yang diinginkan istri dan anak-anaknya (karena yang lebih diinginkan anak dan istrinya adalah waktunya). Pilihan yang lain, jika orang itu mengutamakan keluarganya, maka perusahaannya tidak akan mendapatkan keuntungan sebesar jika ia memilih untuk mengorbankan waktu bagi keluarganya. Bukan hanya itu, keluarganya akan mendapatkan waktu yang mereka inginkan dan dengan demikian memberikan kebahagian juga kepada sang suami. Akan tetapi timbul masalah. Bagaimana mungkin ia dapat menjamin bahwa pengalokasian waktu bagi keluarganya itu tidak akan membawa perusahaannya pada kehancuran? Di sinilah kita memerlukan ciri yang keempat. - Lebih bersyukur
Banyak orang melupakan kuasa dan kebijaksanaan Tuhan dalam mengatur dan menjaga hidup manusia. Memang tidak mungkin bagi kita untuk dapat menjamin keberhasilan atau keamanan pilihan kita 100%. Karena itu kita perlu menyerahkan kekawatiran dan keterbatasan kita kepada Tuhan yang maha kuasa. Undang dan ijinkan agar Tuhan yang maha bijak turut campur dalam memelihara keluarga dan usaha kita.
Kesimpulannya: sang kepala keluarga tersebut akan
membagi waktunya antara pekerjaan dan keluarganya, namun lebih mengutamakan
waktu-waktu khusus bagi keluarganya. Dengan demikian, ia telah menjadi seorang
pekerja yang setia pada kemajuan perusahaan, menjadi seorang kepala keluarga
yang setia pada kebahagiaan keluarganya, dan seorang manusia yang mampu
bergantung pada Tuhannya sambil semakin lebih dapat mengucap syukur atas
perlindungan TuhanNya.
Kesetiaan tidak seharusnya menjadi barang kuno yang
dikalahkan dengan segala kesempatan dan desakan dunia ini. Kesetiaan sejati akan membuat kita dapat makin mengenal
diri kita, mengenal orang-orang di sekitar kita, dan mengenal Tuhan yang maha
kuasa dengan lebih baik. Mari kita menjadikan kesetiaan sebagai bagian
dari hidup kita sehari-hari.