Halaman

Kamis, 31 Oktober 2013

Teguh Sudarmo


Setia dalam bekerja
Jaman ini sering memperbandingkan atau bahkan mempertentangkan kesetiaan dengan kesempatan. Di jaman yang menuntut kita untuk bergerak dengan cepat ini, kesetiaan dianggap sebagai kelambanan. Kesetiaan tidak lagi menjadi nilai luhur yang didamba-dambakan orang. Kesetiaan telah menjadi sebuah sifat yang kuno dan jarang dilirik orang.

Saya mengenal seorang kepala keluarga yang dianugerahi Tuhan kesempatan untuk dapat bekerja dengan jejaring atau network yang luar biasa luas. Dia begitu bersemangat bekerja, karena memang dia menyukai untuk bertemu dengan orang-orang yang baru. Akan tetapi keluasan network yang ia miliki menuntutnya untuk menjaga hubungan baik dengan para koneksinya tersebut. Tidak jarang ia harus memakai weekend untuk menjaga hubungan baik dengan para koneksinya. Ketika keluarganya mencoba untuk menarik perhatiannya agar mendapatkan prioritas waktunya, ia menginginkan agar istri dan anak-anaknya mengerti bahwa apa yang ia lakukan adalah menangkap kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan agar keluarga ini bertambah kokoh secara finansial.

Saya sendiri pernah mengalami dilema antara kesetiaan dan kesempatan ini. Pada saat saya bimbang harus memilih antara setia pada pekerjaan yang baru saja saya rintis dan kesempatan untuk pindah ke bidang lain, banyak orang mengatakan agar saya harus mengambil kesempatan itu. Namun saya sadar bahwa pada akhirnya kesetiaan yang sejati akan tidak akan membuat harapan dan jerih payah saya sia-sia.

Ada perkataan seorang yang sangat bijak di masa lalu berbunyi:

"Terus meneruslah mengetuk, maka pintu akan dibukakan. Terus meneruslah mencari, maka kamu akan menemukan."

Kita perlu mengetahui bahwa kesetiaan tidak pernah bertentangan dengan kesempatan. Bahkan sebenarnya kesetiaan akan membawa kita pada kesempatan-kesempatan yang teruji dan kepastian bahwa kerja keras kita tidak akan pernah sia-sia. Bagaimana ini dapat terjadi? Kita perlu mengetahui ciri-ciri kesetiaan yang sejati dan bukan kesetiaan yang sembarangan atau ditunggangi kemalasan. Minimal ada 4 ciri kesetiaan yang sejati:
  1. Bermula dari pengenalan diri
  2. Kesetiaan yang sejati selalu bermula dari pengenalan akan kelemahan dan kelebihan diri sendiri. Seseorang yang mengaku setia dalam mengerjakan sesuatu, namun tidak mengenali potensinya, bisa jadi hanya seseorang yang membuang-buang kesempatan yang ada. Sebaliknya seseorang mengaku setia dalam mengerjakan sesuatu, namun tidak mengenali resiko yang mengancamnya, bisa jadi hanya merupakan seseorang yang malas dan tidak mau keluar dari zona nyaman.
  3. Kesetiaan yang sejati selalu memaksa kita untuk mengenali potensi dan ancaman yang ada di dalam diri kita terlebih dahulu. Dengan demikian kita baru dapat mengevaluasi potensi dan ancaman yang ada di setiap persimpangan atau kesempatan yang muncul di depan kita. Kesetiaan yang sembarangan sangat beresiko menjerumuskan kita kepada hal-hal yang tidak kita kehendaki. Akan tetapi kesetiaan sejati yang bermula dari pengenalan diri yang baik, akan memperkokoh jalan kita di depan.

  1. Berfokus pada tujuan
Kesetiaan yang sejati tidak pernah berarti hanya tinggal di tempat dan tidak melakukan apa-apa. Kesetiaan sejati justru menjaga seseorang agar tetap mengejar tujuan yang telah ditetapkannya. Seseorang tidak dapat mengatakan bahwa ia setia, jika ia tidak mempunyai tujuan. Kesetiaan tanpa tujuan berarti tinggal diam di zona nyaman dan tidak berbuat apa-apa.
Membangun sesama
Kesetian sejati juga membuat kita menjadi semakin sadar akan kondisi di sekitar kita. Orang yang terlalu sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, atau dari masalah yang satu ke masalah yang lain, atau dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain, akan mempunyai pengetahuan yang relatif dangkal akan relasi atau rantai sebab akibat dari hal yang satu ke hal yang lain; dan pengetahuan yang dangkal ini menyebabkan seseorang untuk mengambil keputusan secara gegabah dan beresiko sangat besar untuk merugikan orang lain.

Kesetiaan yang sejati akan membuat kita bertahan sedikit lebih lama, mengamati lebih teliti, berpikir lebih matang, dan mengambil keputusan dengan lebih hati-hati. Kesetiaan yang sejati akan menolong kita terhindar dari bahaya-bahaya di balik kesempatan-kesempatan yang muncul di depan kita. Selain itu kesetiaan sejati akan mendorong kita agar tiap keputusan kita juga dapat menjadi berkat dan membangun orang-orang di sekitar kita.
  1. Membuat kita dapat makin bersyukur
    Salah satu keunggulan kesetiaan yang sejati adalah kemampuannya untuk membuat kita lebih mudah bersyukur. Hal ini disebabkan karena kesetiaan sejati tidak pernah lepas dari menyerahkan kekawatiran dan ketidakmampuan kita kepada Tuhan yang maha kuasa. Seseorang yang mengenali kelemahan dan kekuatannya sendiri dengan baik akan memahami bahwa walaupun mampu melakukan banyak hal, manusia merupakan mahluk yang lemah dan terbatas. Pengetahuan, daya analisa, dan tenaga kita yang terbatas membuat kita mustahil untuk dapat mengetahui bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang terbaik. Hanya Tuhan yang maha tahu dan maha bijaklah yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Karena itu kesetiaan sejati tidak akan pernah dapat dilepaskan dari penyerahan total diri kita kepada kehendak Tuhan yang maha kuasa. Dengan demikian kita akan selalu bersyukur karena hidup kita aman berada di tangan Yang Kuasa.
Mari saya berikan sebuah contoh: di atas saya menceritakan tentang seorang kepala keluarga yang sedang bergumul antara kesempatan-kesempatan yang ditawarkan dari koneksi-koneksinya dengan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga terhadap istri dan anak-anaknya. Mari kita menggunakan 4 ciri kesetiaan sejati untuk menelaah kasus ini.

  1. Pengenalan diri
    Kita harus menyadari bahwa baik pekerjaan dan keluarga memegang peranan yang penting dalam hidup orang ini. pemeliharaan hubungan dengan rekan-rekan kerjanya akan membawa keuntungan pada pekerjaannya dan dengan demikian juga menguntungkan secara finansial bagi keluarganya. Akan tetapi tanpa kehadiran keluarganya, maka orang ini akan kehilangan tujuan dan semangat yang menjadi dasar dalam bekerja. Sekarang mari kita lihat tujuan yang ditetapkan orang ini.
  2. Fokus pada tujuan
    Hampir semua orang yang telah berkeluarga mempunyai satu tujuan utama yang sama dalam bekerja, yaitu memberi nafkah atau kemapanan finansial keluarganya. Beberapa kelompok orang yang telah mapan menambah tujuannya dengan menyenangkan dirinya dengan cara membeli barang-barang ataupun berekreasi. Beberap kelompok orang yang lain menambah tujuannya dengan berbagi atau menolong orang-orang yang membutuhkan. Apapun tujuan tambahan orang itu, yang pasti tujuan utamanya adalah memberi kemapanan finansial bagi keluarganya. Artinya ia bekerja untuk membahagiakan dan menjamin masa depan istri dan anak-anaknya. Sekarang mari kita lihat ciri ketiga dari kesetiaan yang sejati.
  3. Membangun sesama
    Kesetiaan yang sejati tidak akan mengorbankan orang lain demi kepentingan atau ambisi pribadinya. Sekarang mari kita telaah kemungkinan-kemungkinannya. Bila pekerjaan orang itu berkembang, maka orang-orang yang bekerja sama dengan orang itu juga akan mendapatkan keuntungan. Bukan hanya itu, keluarganyapun akan mendapatkan keuntungan secara finansial, walaupun mungkin bukan kebahagiaan yang diinginkan istri dan anak-anaknya (karena yang lebih diinginkan anak dan istrinya adalah waktunya). Pilihan yang lain, jika orang itu mengutamakan keluarganya, maka perusahaannya tidak akan mendapatkan keuntungan sebesar jika ia memilih untuk mengorbankan waktu bagi keluarganya. Bukan hanya itu, keluarganya akan mendapatkan waktu yang mereka inginkan dan dengan demikian memberikan kebahagian juga kepada sang suami. Akan tetapi timbul masalah. Bagaimana mungkin ia dapat menjamin bahwa pengalokasian waktu bagi keluarganya itu tidak akan membawa perusahaannya pada kehancuran? Di sinilah kita memerlukan ciri yang keempat.
  4. Lebih bersyukur
    Banyak orang melupakan kuasa dan kebijaksanaan Tuhan dalam mengatur dan menjaga hidup manusia. Memang tidak mungkin bagi kita untuk dapat menjamin keberhasilan atau keamanan pilihan kita 100%. Karena itu kita perlu menyerahkan kekawatiran dan keterbatasan kita kepada Tuhan yang maha kuasa. Undang dan ijinkan agar Tuhan yang maha bijak turut campur dalam memelihara keluarga dan usaha kita.
Kesimpulannya: sang kepala keluarga tersebut akan membagi waktunya antara pekerjaan dan keluarganya, namun lebih mengutamakan waktu-waktu khusus bagi keluarganya. Dengan demikian, ia telah menjadi seorang pekerja yang setia pada kemajuan perusahaan, menjadi seorang kepala keluarga yang setia pada kebahagiaan keluarganya, dan seorang manusia yang mampu bergantung pada Tuhannya sambil semakin lebih dapat mengucap syukur atas perlindungan TuhanNya.

Kesetiaan tidak seharusnya menjadi barang kuno yang dikalahkan dengan segala kesempatan dan desakan dunia ini. Kesetiaan sejati akan membuat kita dapat makin mengenal diri kita, mengenal orang-orang di sekitar kita, dan mengenal Tuhan yang maha kuasa dengan lebih baik. Mari kita menjadikan kesetiaan sebagai bagian dari hidup kita sehari-hari.



teguh sudarmo



Pentingnya menegakkan disiplin
Berbicara tentang kedisiplinan dan komitmen untuk lakukan yang terbaik, budaya kerja bangsa Jepang bisa dijadikan sebagai contoh. Bangsa Jepang dikenal sebagai bangsa yang disiplin dan tingkat produktivitasnya tinggi. Berkat budaya kerjanya itu maka mereka bisa menjadi bangsa yang tingkat ekonominya sejajar dengan negara-negara maju di Eropa dan Amerika.
Orang jepang terkenal dengan etos kerjanya yang luar biasa. Etos kerja ini memiliki peranan penting atas kebangkitan ekonomi jepang, terutama setelah kekalahan Jepang diperang dunia kedua. Dulu orang Jepang bukanlah orang yang memiliki etos kerja yang tinggi. Mereka tidak disiplin dan lebih senang bersantai dan menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang.
Namun kekalahan Jepang pada perang dunia kedua mengubah keadaan yang serba santai dimasa lalu. Ekonomi Jepang kacau balau, pengangguran dimana-mana. Saat itu mereka tidak punya pilihan lain selain bekerja dengan sangat keras agar bisa survive. Kondisi yang serba tidak enak itu secara tidak langsung menempa kedisiplinan mereka dan memiliki peran yang sangat signifikan dalam pembentukan etos kerja mereka yang begitu mengagumkan. Etos kerja tersebut menular ke generasi selanjutnya dalam konsep moral yang ditanamkan dengan ketat melalui jalur pendidikan.
Berbagai disiplin bangsa Jepang ditempat kerja mereka akan diuraikan dalam berbagai contoh sbb:
1. Prinsip Bushido
Prinsip tentang semangat kerja keras yang diwariskan secara turun- menurun. Semangat ini melahirkan proses belajar yang tak kenal lelah. Awalnya semangat ini dipelajari Jepang dari barat. Tapi kini baratlah yang terpukau dan harus belajar dari Jepang.
2. Prinsip Disiplin Samurai
Prinsip yang mengajarkan tidak mudah menyerah. Para samurai akan melakukan harakiri (bunuh diri) dengan menusukkan pedang ke perut jika kalah bertarung. Hal ini memperlihatkan usaha mereka untuk menebus harga diri yang hilang akibat kalah perang. Kini semangat samurai masih tertanam kuat dalam sanubari bangsa Jepang, namun digunakan untuk membangun ekonomi, menjaga harga diri, dan kehormatan bangsa secara teguh. Semangat ini telah menciptakan bangsa Jepang menjadi bangsa yang tak mudah menyerah karena sumber daya alamnya yang minim juga tak menyerah pada berbagai bencana alam, terutama gempa dan tsunami.
3. Konsep Budaya Keishan
Perubahan secara berkesinambungan dalam budaya kerja. Caranya harus selalu kreatif, inovatif, dan produktif. Konsep Keisan menuntut kerajinan, kesungguhan, minat dan keyakinan, hingga akhirnya timbul kemauan untuk selalu belajar dari orang lain.
4. Prinsip Kai Zen
Mendorong bangsa Jepang memiliki komitmen tinggi pada pekerjaan. Setiap pekerjaan perlu dilaksanakan dan diselesaikan sesuai jadwal agar tidak menimbulkan pemborosan. Jika tak mengikuti jadwal, maka penyelesaian pekerjaan akan lambat dan menimbulkan kerugian. Oleh karena itu, perusahaan di Jepang menerapkan peraturan “tepat waktu”. Inilah inti prinsip Kai Zen: optimal biaya dan waktu dalam menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.
5. Perusahaan untung besar, saya juga akan untung
Disiplin dan semangat kerja inilah yang membentuk sikap dan mental kerja yang positif. Disiplin juga menjadikan para pekerja patuh dan loyal pada perusahaan atau tempat mereka bekerja. Mereka mau melakukan apa saja demi keberhasilan perusahaan tempat mereka bekerja, bahkan hebatnya mereka sanggup bekerja lembur tanpa mengharapkan bayaran tambahan. Karena mereka beranggapan jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan besar, secara otomatis mereka akan mendapatkan kompensasi setimpal. Dalam pikiran dan jiwa mereka sudah tertanam keinginan melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Gagal melakukan tugas sama halnya mempermalukan diri sendiri, bahkan harga diri mereka merasa hilang.
6. Malu, kalau pulang lebih cepat
Mereka yang pulang lebih cepat dianggap sebagai pekerja yang tidak penting dan tidak produktif.  Ukuran nilai dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang dihabiskan di tempat kerja. Kecintaan orang Jepang pada pekerjaannya, membuat mereka fokus pada pekerjaannya. Tanpa ada pengawas pun mereka bekerja dengan baik, penuh dedikasi, dan disiplin.
7. Kerja ya kerja, istirahat betul-betul istirahat
Ketika jam 8 pagi masuk kerja, tak ada lagi obrolan dan canda, mereka langsung bekerja di komputer masing-masing atau sibuk langsung di depan workstation masing-masing. Baru ketika tiba saatnya hiru gohan no jikan (makan siang) mereka hentikan aktivitas masing-masing dan bercanda ria dengan teman-teman sambil menuju shokudo (kantin).
8. Tidur 30 menit, di waktu jam istirahat
60 menit jam makan siang, rata-rata dibagi 30 menit untuk urusan makan siang, 30 menit untuk tidur sejenak, guna memulihkan energi lagi. Mereka akan sisihkan waktu untuk tidur sambil merebahkan kepala di meja kerja masing-masing. Re-charge energi.
9. Disiplin soal kecil-kecil
* Sampah yang jatuh di area kerja, harus dipungut dengan tangan kosong (sude), tidak boleh memakai alat.
* Jika menemukan puntung rokok atau permen karet, Anda harus segera pungut, tidak peduli siapa yang membuangnya, Anda tidak boleh pura-pura seolah tidak melihatnya.
Tidak ada sukses yang diraih tanpa disiplin diri dan semangat kerja yang tinggi. Tuhan sudah menyediakan berkat-berkatNya untuk kita semua, tinggal kita yang "menggali berkat" tersebut dengan semangat dan disiplin kerja yang tinggi.
Motto :
tak ada sesuatu yang tidak mungkin dan tidak mungkin sesuatu datang tanpa diupayakan dengan disiplin yang tepat.

Rabu, 09 Oktober 2013

Standar Internasional Pengamanan

Perumusan standar internasional, dimanfaatkan oleh negara-negara maju untuk mempengaruhi persaingan dan sofistikasi pasar global dimasa datang. Isu global, seperti keselamatan manusia/ pekerja, kesehatan masyarakat, pelestarian fungsi lingkungan hidup, bahkan penjaminan keamanan menjadi faktor yang penting dalam perkembangan standar internasional. Maka akan menjadi kendala tersendiri bagi negara yang tidak memiliki sistem standarisasi yang baik. Itu artinya bahwa negara yang tidak mengikuti standar internasional, secara pelan dan pasti akan tersisih dari persaingan global.
Indonesia juga harus mengikuti standat internasioanal tertentu sesuai kebutuhan, agar Indonesia dapat diterima dalam tata pergaulan masyarakat internasional, tidak terkecuali dalam hal standar keamanan. Cakupan dari sasaran standar pengamanan adalah suatu instalasi atau area, yang juga mengikuti batasan-batasan yang biasa dituntut oleh standar internasional. Hal ini berlaku bukan hanya terhadap badan, lembaga dan perusahaan milik negara yang vital dan penting, tetapi juga terhadap perusahaan atau lembaga swasta. Kalau dulu pengamanan dimaksudkan untuk sekedar mencegah dan menanggulangi ancaman. gangguan, hambatan dan tantangan (AGHT) dari kejahatan konvensional yang motifnya kriminal murni, maka untuk saat ini pengamanan mencakup pula terhadap informasi penting yang tidak boleh bocor, baik bagi pihak yang tidak berkepentingan maupun terhadap para pesaing. Misalnya hal yang berkaitan dengan segmen pasar, strategi pemasaran, atau suatu produk tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan dan pengamanan tidaklah semata-mata ditujukan pada bangunan fisik tetapi juga hal-hal yang non fisik yang menjadi ”core business” perusahaan atau badan tersebut.
Apabila hal-hal tersebut dikaitkan dengan tugas pokok kepolisian maka artinya bahwa kemampuan kepolisian juga harus tumbuh berkembang, agar dinamika-dinamika yang terjadi dapat tetap terkelola secara baik dan tidak sampai mengganggu proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi, keberlangsungan industri, produksi dan sebagainya. Pemikiran-pemikiran yang bersifat antisipatif dan prediktif tentang ancaman terhadap keamanan saat ini dan di masa depan itulah yang akhirnya memunculkan kebutuhan akan ”standart security management system”.
Kini pengamanan tidak lagi hanya dilihat sebagai kemampuan seorang menjadi satpam yang baik, kapabel dan disegani, tetapi merupakan suatu bisnis, bagaimana mengelola tugas pengamanan dalam suatu sistem nilai, aturan, perencanaan, pembinaan, konsultasi, komunikasi, pengendalian dokumen, penangan keadaan darurat, pengendalian resiko, analisa dan auditing. Isu standar keamanan akhirnya juga disusul dengan munculnya lembaga-lembaga publik yang menggarap segmen penyiapan pengawakan keamanan, dan sistem yang dituntut oleh standart itu sendiri. Di Indonesia kemudian tumbuh berkembang BUJP-BUJP (badan usaha jasa pengamanan), CPTED (crime prevention through environment design), dan juga asosiasi-asosiasi yang menangani jasa pengamanan, seperti AMSI (asosiasi manager security Indonesia), ABUJAPI, dan lain-lain.
Dalam mengemban tugas menjamin keamanan dan ketertiban, Kepolisian sesuai UU Kepolisian dibantu oleh Kepolisian khusus, penyidik PNS (pegawai negeri sipil) dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa. Dengan demikian hubungan antara Kepolisian dengan ketiga komponen pembantu tugas-tugas kepolisian tersebut adalah hubungan fungsional yang bersifat pembinaan dan koordinatif. Satpam adalah bentuk pengamanan swakarsa, dengan demikian hubungan petugas kepolisian dengan satpam adalah bersifat pembinaan dan koordinatif dalam tugas-tugas pengamanan dalam area yang menjadi tanggungjawab satpam tersebut. Untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, satpam diberikan kewenangan kepolisian terbatas, yang kemampuan dan ketrampilannya harus senantiasa dibina oleh kepolisian sebagaimana amanat perundang-undangan.
Mengingat bahwa satpam berasal dari dua sumber, yaitu satpam organik perusahan (in house security) dan satpam yang berasal dari badan usaha di bidang jasa pengamanan (out source), maka hal ini akan membawa implikasi yang berbeda pula dalam sifat hubungan kerja dengan manajemen perusahan. Satpam organik perusahaan sifat hubungannya adalah hubungan tenaga kerja industrial yang terikat oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan (UU No. 13 Tahun 2003), sedangkan hubungan satpam out source dengan perusahaan user bersifat kontraktual atau perjanjian, yaitu perjanjian kerjasama antara perusahaan user dengan BUJP sumber satpam out source. Meskipun berbeda sumber asalnya, namun setiap satpam harus memiliki kompetensi sebagaimana dikehendaki oleh Peraturan Kapolri Nomor 18 Tahun 2006 tentang Pelatihan dan Kurikulum Satuan Pengamanan. Dalam pelaksanaan tugasnya, seorang satpam juga harus senantiasa mematuhi Kode Etik Satpam dan Prinsip Penuntun Satpam. Hal-hal tersebut harus menjadi “sikap dan perilaku yang menjiwa” (security mindedness) bagi seorang satpam. Kepolisian ikut bertanggung jawab dalam rangka meningkatkan dan memelihara kualitas satpam agar memenuhi standar internasional, oleh karena itu maka terhadap sumber-sumber satpam, yaitu in house/ menejer dan BUJP, Kepolisian menjalin hubungan kerja yang bersifat pembinaan, supervise dan koordinasi, khususnya dalam pembentukan satpam dan pelatihan-pelatihan terstruktur lainnya guna keperluan sertifikasi. Untuk memelihara kualitas dan kompetensi satpam, maka setiap manajer satpam atau BUJP wajib menyelenggarakan program-program penyegaran secara terjadwal secara mandiri atau meminta bantuan pembinaan dari Kepolisian.
Skema di bawah ini menunjukkan pola hubungan antara Polri, satpam, user satpam, BUJP, Badan audit, dan asosiasi-asosiasi pengelola jasa satpam, kaitannya dengan peningkatan kualitas satpam.
Pembinaan Kesatpaman Menuju Daya Saing Dunia Usaha
Sebagai profesi, maka pembinaan terhadap satpam harus mencakup:
1. Adanya regulasi/ penataan/ pengaturan dan penyelenggaraan;
a. Diklat (diselenggarakan oleh Polri dan Pengguna)
b. Legalitas dan Kompetensi.
1) KTA Satpam (menunjukan stratifikasi dan kemampuan)
2) Seragam satpam dan perlengkapan (menunjukkan kesiap-siagaan)
3) Ijazah Satpam (menunjukan keabsahan profesi)
4) Izin operasional (menunjukkan legalitas suatu badan hukum)
c. Sistem operasional (adanya SOP/ Standard operacional prosedur dan hubungan tatacara kerja)
2. Assesment yang berstandar
Assesment adalah penilaian data untuk mendapatkan nilai, yaitu dengan metode pencocokan, auditing atau membandingkan fakta yang ditampilkan dengan ketentuan regulasi.
3. Fasilitas, penggajian dan kesejahteraan satpam
1. Sistem penggajian yang layak
2. Tunjangan dan kesejateraan lainnya, misalnya pengaturan libur dan cuti
3. Penyelenggaraan promosi yang efektif dan efisien
4. Memfasilitasi dalam berurusan dengan instansi terkait
4. Sosialisasi hasil assesment
Sosialisasi hasil assesment ditujukan kepada User satpam, pelanggan, perusahaan, instansi, buyers, dilakukan oleh Polri bersama Abujapi, ANSI, BUJP, perorangan, dan lain-lain
5. Implementasi
User, pelanggan dan atasan buyers menggunakan data dan hasil audit tersebut untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam memutuskan pilihan terhadap satpam dan BUJP mana yang hendak dibeli atau digunakan.
Dalam lingkup kesisteman sebuah lembaga atau perusahaan, maka kompetensi satpam yang dibutuhkan, tidak cukup hanya didapat ketika seorang satpam mengikuti pendidikan pembentukan satpam oleh kepolisian, tetapi juga harus memahami ke khas-an dari lingkungan kerja berkaitan dengan core business, aturan-aturan spesifik maupun ke khas-an dari perusahaan. Hal ini karena adanya tuntutan spesifik dari profil perusahaan dan lingkungan kerja.
Kompetensi satpam yang di selenggarakan oleh kepolisian menyangkut:
a. kemampuan dalam melaksanakan kewenangan kepolisian terbatas
1. pengamanan
2. penegakan aturan
3. pemeriksaan, dan
4. tindakan kepolisian terbatas lainnya
b. kemampuan dalam bidang keselamatan dan keamanan lingkungan kerja, dan
1. mampu melaksanakan pengamanan (rutin atau insidental)
2. mampu melaksanakan tindakan kontijensi
3. memahami dan mampu menjalankan standart operating procedure (SOP)
c. kemampuan dalam spesialisasi dibidang industri securiti.
1. mampu membuat rencana kegiatan (rutin dan insidental) berkaitan dengan kadar ancaman yang mungkin terjadi
2. menyusun rencana dan alternatif tindakan kontijensi
3. menyusun laporan kejadian dan menindaklanjuti dengan teknik atau strategi pengamanan yang lain
4. memberi saran kepada user tentang pengamanan
5. merancang bangun pemasangan dan pemeliharaan instrumen keamanan
Sedangkan kemampuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang satpam terkait dengan profil perusahaan dan lingkungan kerja pelatihannya difasilitasi oleh perusahaan tersebut, baik dengan dukungan BUJP dan Polri ataupun secara mandiri dilakukan oleh perusahan tersebut.
Kompetensi yang didukung kelengkapan kerja satpam, misalnya alat komunikasi, Gam satpam dan atribut satpam tentu akan makin menambah kepercayaan diri bagi satpam dalam melaksanakan tugasnya. Penampilan satpam mempengaruhi keyakinan orang lain bahwa keamanannya atau keamanan bisnis dan lingkungan kerjanya akan terjamin. Hal ini akan memberi dampak positif bagi pihak lain untuk mengambil peluang dalam menanamkan investasi, atau memutuskan untuk bersedia terlibat kerjasama dengan sebuah perusahaan atau lembaga yang kuat dari aspek kecilnya resiko, karena tingkat perlindungan keamanan yang menyakinkan. Sekedar contoh yang memcerminkan pengaruh keyakinan perlindungan keamanan terhadap keputusan lembaga ekspedisi pengiriman uang atau benda berharga dalam memilih BUJP sebagai mitra kerjanya adalah, sebuah daftar pertanyaan dari lembaga ekspedisi tentang peralatan apa saja yang dimiliki oleh BUJP tersebut apabila terjadi situasi kontijensi. Kompetensi dan kelengkapan seperti tersebut di atas akan selalu menjadi bahan pertimbangan sebuah lembaga untuk menentukan siapa yang pantas menjadi mitra kerjanya. Jadi tidak hanya ditanyakan apakah satpam yang akan bekerja padanya sudah mengikuti pendidikan satpam dengan benar dan memiliki sertifikat satpam.
BUJP sebagai penyedia jasa pengamanan, dan kepala/ manejer securiti in house, ikut bertanggungjawab dalam penyediaan dan pemeliharaan tenaga satpam yang berkualitas. Oleh karena itu upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas satpam atau maintenance (pemeliharaan) melalui pelatihan satpam perlu diselenggarakan secara periodik dan secara terjadwal. Hal ini dimaksudkan agar satpam peserta peningkatan kualitas dapat focus guna meningkatkan kemampuan dirinya. Disamping kurikulum baku atau materi-materi tentang kesatpaman, perlu pula diberikan pelatihan kemampuan berkomunikasi/ bicara efektif, inter personal skill, mediasi penyelesaian konflik, spiritualitas, agar satpam tampil dalam performance yang tidak hanya tegas, tetapi juga berwibawa dan dihormati karena sikap dan perilakunya yang baik. Satpam yang memiliki kinerja yang baik dan berpenampilan terbaik adalah suatu investasi dalam bentuk lain (selain dana), dan menjadikan perusahan/ lembaga dapat menekan biaya yang biasanya dialokasikan untuk mengatasi hal-hal yang bersifat gangguan keamanan.
Ukuran lain bagi pelanggan/ user dalam menentukan mitra kerja BUJP adalah; Pertama, apakah BUJP tersebut telah melalui audit rekomendasi dan memiliki ijin operasional dari Kepolisian. Kedua, apakah terhadap BUJP tersebut telah dilakukan audit SMP (sistem menejemen pengamanan) oleh badan audit yang resmi ditunjuk oleh kepolisian (misalnya sucopindo). Ketiga, apakah BUJP tersebut telah memenuhi standar internasional menejemen pengamanan (misalnya mendapatkan ISO). Jadi kinerja satpam dan BUJP tertentu adalah sebuah citra, yang pada saatnya dijadikan pertimbangan untuk bekerjasama.
Pelaksanaan audit pada pokoknya dimaksudkan untuk melakukan pencocokan dipenuhinya semua ketentuan regulasi tentang standart security management system dengan fakta-fakta dilapangan yang mampu di tunjukkan oleh BUJP. Dengan dilakukan audit berarti obyek akan mendapatkan kriteria atau nilai, dan dari nilai inilah buyers atau pelanggaan akan mampu memprediksi resiko. Hal yang sama, (yaitu audit rekomendasi dan audit SMP) tidak dapat diberlakukan secara utuh terhadap satpam dan menejemen pengamanan yang dirancang oleh manajemen atau menejer in house. Namun terhadap manajemen in house dapat pula dilakukan auditing SMP oleh Kepolisian (atau melalui badan audit publik yang ditunjuk oleh kepolisian) sepanjang manajemen in house bersungguh-sungguh untuk memenuhi standar internasional pengamanan, yang artinya bahwa berpeluang pula untuk mendapat ISO.
Penutup
Iklim investasi yang ditunjang oleh perlindungan hukum, kepastian hukum dan terjaminnya rasa aman sudah pasti akan menjadi faktor daya saing dunia usaha. Oleh karena itu badan/ lembaga usaha yang mampu menekan resiko dari ancaman keamanan atau terganggunya keamanan, berpeluang besar memenangi persaingan dalam tingkat global. Pelaksanaan secara konsisten dan menyeluruh terhadap Peraturan Kapolri Nomor 18 Tahun 2006 tentang Pelatihan Dan Kurikulum Satpam, serta, Peraturan Kapolri Nomor 24 Tahun 2007 tentang Sistem Menejemen Pengamanan, adalah perwujudan dari sikap responsif Kepolisian RI guna mendukung daya saing dan keberhasilan dunia usaha di Indonesia yang digerakkan tidak hanya oleh unsur pemerintahan pada departemen terkait, tetapi juga pihak dunia usaha swasta.

Minggu, 06 Oktober 2013

Mengapa anda membutuhkan Satpam security dotcom?

Meskipun anda akan menemukan banyak informasi mengenai bagaimana menjadi seorang satpam dan lowongan kerja satpam, akan tetapi informasi yang diberikan tidak di atur dengan rapi serta membingungkan sehingga anda tidak tahu dimana harus memulai yang akhirnya anda tidak mendapatkan informasi yang anda butuhkan. Satpam security dotcom mempunyai tujuan untuk memberikan informasi yang tepat, lengkap, terbaru dan mudah untuk anda ikuti sehingga anda bisa mendapatkan informasi mengenai satpam secara lengkap dan terstruktur. Akhir kata selamat atas pilihan tepat anda sebagai satpam dan semoga kami bisa membantu anda !