Terorisme adalah sebuah fenomena yang sulit untuk dimengerti. Aksinya
sangat mematikan dan tertutup, membawa banyak korban jiwa, termasuk
orang yang tidak bersalah.Dari beberapa insiden, diketahui bahwa
seseorang tanpa dasar pendidikan yang cukup dapat melakukan aksi yang
spektakuler. Terorisme, ini adalah sebuah mashab atau aliran
kepercayaan melalui pemaksaan kehendak, guna menyuarakan pesannya.
Melakukan tindakan ilegal yang menjurus kearah kekerasan, kebrutalan
bahkan pembunuhan. Istilah lain yang juga sering disebut adalah teroris.
Teroris, ini adalah pelaku atau pelaksana bentuk-bentuk
terorisme, yang dilakukan baik oleh perorangan ataupun kelompok dengan
cara kekerasan sampai pembunuhan. Yang dimulai dengan sistem
konvensional hingga modern. Karena itu, secara keseluruhan dapat
dikatakan bahwa efek teroris memiliki dimensi luas, dan umumnya secara
langsung memberikan tekanan kepada pemerintah.
Sementara Teror difahami sebagai tindakan untuk menciptakan dan
memaksakan kehendak dengan jalan kekerasan, tujuannya untuk menimbulkan
rasa takut. Perbedaan pandangan terhadap apa, siapa, kenapa, dan
bagaimana tentang terorisme adalah wajar, sejauh ini disikapi secara
arif dan bijak.Yang perlu diingat, teror itu merupakan kegiatan
intelijen yang dimainkan oleh “dalang” yang tidak atau memang belum pernah terungkap hingga saat ini.
Adjie S,Msc dalam bukunya Terorisme menyebutkan, pada beberapa kasus, beberapa kelompok melakukan “undeclared warfare”
kepada suatu negara secara tersembunyi. Dimana kawasan yang memiliki
pengalaman konflik secara luas seperti Lebanon, Afghanistan dan El
Savador terbukti secara efektif menggunakan taktik teror, bahkan
dilakukan oleh dua kelompok yang saling berhadapan. Kini, teroris
memiliki kemampuan yang luar biasa, mampu membentuk kader, dalam sekejab
mempersiapkan diri atau kelompoknya menjadi mesin pembunuh yang
potensial. Dapat menghancurkan gedung, sekaligus membunuh, menimbulkan
rasa takut dan tidak aman.
Bagaimana dengan teroris di Indonesia? Noordin M Top, adalah seorang
tokoh teroris yang paling dicari oleh aparat keamanan hingga
kini. Sesuai dengan aturan yang berlaku pada kelompok teroris, si
pemimpin harus memiliki dedikasi tinggi untuk organisasi, pengikut,
serta kelompoknya. Ini dimiliki oleh Noordin. Bisa dibayangkan
kehebatannya, bahkan mantan Dan Densus 88 Brigjen Pol (Purn) Suryadarma
Salim menyebutnya Noordin bukan tokoh teror taman kanak-kanak. Sebagai
WN Malaysia dia beroperasi di Indonesia. Sudah sekian lama selalu mampu
menghindar belum juga dapat ditangkap, bahkan mampu melakukan serangan
bom. Kelompok teroris ini, menghendaki masyarakat luas menyediakan
dukungan sehari- hari, seperti pengumpulan data untuk kepentingan
intelijen dan sumber dana. Tingkat dan susunan sebuah kelompok teroris
terdiri dari pimpinan atau ketua, kader aktif, pendukung aktif,
pendukung pasif, dan simpatisan di tengah masyarakat.
Dari beberapa hasil pemeriksaan dan pengadilan, menunjukkan, biasanya
mereka bersembunyi dengan menyewa atau membeli rumah. Bersosialisasi
dengan masyarakat umum dan berjualan, dalam rangka menyamarkan kegiatan.
Di rumah itu mereka melakukan penimbunan senjata, bahan peledak, dan
perakitan bom. Anggota jaringan taktis, adalah mereka yang melakukan
peledakan bom, melakukan pembunuhan, penculikan, pembakaran. Semua
anggota memiliki dedikasi tinggi kepada kelompoknya. Bahkan beberapa
anggota lebih memilih melakukan aksi bunuh diri sekalipun, aksi yang
dipahami seluruh anggota, tergantung perintah pimpinan. Jaringan taktis
akan bergerak bila pimpinan sudah memutuskan tujuan jangka pendek.
Itulah yang dilakukan para teroris.
Amerika Serikat kini lebih terlihat melokalisir peperangannya dengan Al
Qaeda di Afghanistan. Presiden Barrack Obama nampaknya telah berhasil
melakukan pendekatan dengan negara-negara Islam, agar mata rantai
dukungan terhadap teroris dapat diputuskan. Fareed Zakaria mengatakan
bahwa AS dalam menghadapi Al-Qaeda sangat memahami, mereka menghadapi
sebuah perang yang sangat panjang dengan banyak terjadi pertempuran
besar dan kecil.
Dalam mengatasi ancaman terorisme, harus dimulai dengan dasar pemikiran
dan strategi yang tepat. Karena teroris umumnya menggunakan dasar ilmu
intelijen, maka “counter terorism” di susun dengan pola operasi intelijen. Pertama, penerapan strategi militer,
di sektor militer dilakukan operasi bawah tanah, dengan tekanan yang
bertujuan menghancurkan kelompok teroris. Setiap orang yang merencanakan
dan membantu operasi teroris harus mengerti bahwa dia akan diburu dan
dihukum. Operasi mereka akan diganggu, keuangan akan dikeringkan,
tempat persembunyian akan terus diserbu. Jika ini berhasil, tidak ada
lagi yang jadi masalah di sektor militer. Operasi akan lebih efektif
apabila tim merupakan gabungan antara Densus 88/Antiteror dari
kepolisian dan satuan-satuan antiteror TNI. Hambatan ketentuan UU
dan SOP sebaiknya diatasi dengan pemikiran jangka panjang, karena
ancaman teror jelas mengganggu pembangunan dan kredibilitas kondisi
keamanan Indonesia dimata negara lain. Semua yang ditata oleh
pemerintah akan bisa runtuh dalam sekejap mata dengan sebuah serangan
teror. Inilah nilai terpenting yang harus kita sadari bersama.
Kedua, yaitu Strategi politik yang jelas lebih rumit lagi.
Sistem politik harus ditata ulang dalam kaitannya dengan bahaya teror.
Pelibatan elite politik agar satu suara dalam penanganan masalah teroris
sangat dibutuhkan, tidak seperti masa lalu. Dalam hal Bom Bali-I, masih
terjadi perbedaan pendapat di antara elite politik. Tokoh-tokoh parpol
Islam sangat penting dilibatkan dalam penanganan kasus, agar tidak
terjadi tekanan politis bagi pemberantasan teror, bukan ditujukan kepada
umat Islam tetapi kepada kelompok radikal teror. Hal yang dibutuhkan
adalah sebuah konsensus nasional yang luas. Aliansi politik menjadi
masalah penting bagi keamanan nasional kita. Persaingan sudah berlalu
dan selesai, kini waktunya bersatu padu menyelamatkan negara.
Ketiga, strategi budaya. Pemerintah bersama tokoh-tokoh agama
wajib membantu dan menyadarkan generasi muda Islam di tempat-tempat
pendidikan agama. Dari beberapa kasus, mereka ini yang dibina dan
dijadikan kader. Beberapa anggota kelompok bersedia dan sadar untuk mati
lebih disebabkan karena mampu diyakinkan bahwa “surga” akan
didapatnya, dan mereka sudah berada dijalan yang benar. Menjadi
tugas kita bersama untuk kembali menyadarkan pemuda-pemuda yang demikian
bersemangat, agar kembali memahami pengertian baik dan buruk,
pengertian haram dan halal serta pengertian jihad dan mati syahid. Di
sisi inilah pemuda itu banyak digelincirkan. Umumnya serangan teror
hanya ramai dibicarakan saat kejadian, dan biasanya setelah beberapa
lama akan dilupakan. Perang dengan terorisme adalah perang yang sangat
serius, kalau dahulu hanya alumnus Ngruki yang dibina, kini nampaknya
pengkaderan sudah merambah keorganisasi lain. Yang lebih berbahaya,
beberapa yang dikader adalah mereka yang tidak berafiliasi keorganisasi
manapun. Strategi budaya harus terus dilakukan pemerintah, kita tidak
rela rasanya apabila para pemuda Islam kita yang bersemangat
dimanfaatkan dan dilibatkan dalam perang mereka.
Aparat telah mengejar sang Noordin selama lebih dari tujuh tahun, tetapi
dia masih bebas berkeliaran dan bahkan mampu melakukan pemboman.
Teroris masih bisa hidup karena mereka bercampur dengan rakyat. Oleh
karena itu mereka harus dipisahkan dengan rakyat itu. Walau
bagaimanapun, dengan jenis senjata termodern sekalipun, dengan strategi
yang andal atau taktik yang jitu, sulit untuk memenangkan
peperangan menghadapi terorisme tanpa dukungan aktif dan partisipasi
dari masyarakat. Teroris tidak akan pernah dapat dikalahkan hanya dengan
menggunakan kekuatan fisik saja.
Karena itu memainkan kartu lama digabung dengan kartu baru nampaknya
akan lebih bisa diharapkan. Solusi pelengkap dari ketiga strategi itu
sederhana saja, aktifkan dan berdayakan Babinsa dan Babin Kamtibmas
bersama-sama secara utuh, tidak sebagai pesaing. Babinsa adalah jaringan
teritorial yang telah puluhan tahun berpengalaman bergaul dan berperan
di masyarakat. Tanpa semuanya itu, maka kita harus terus menerus
siap-siap di bom, kita akan “jengkel” karena semua yang sudah di tata itu akan menjadi kacau dan terganggu. Kita akan marah dan kembali akan “jengkel” karena tidak jelas marah kepada siapa. Itulah menakutkannya terorisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar